Kamis, 10 Maret 2016

Gerhana Matahari Total di Palangka Raya



Tema acara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah


Pemberitaan mengenai gerhana matahari total akhir-akhir ini di Indonesia begitu gencar disiarkan. Termasuk bagaimana cara aman menyaksikan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Hal itu lantaran hanya negara kita tercinta ini saja satu-satunya negara yang dilalui oleh gerhana matahari pada tanggal 9 Maret 2016. Memang tidak seluruh Indonesia yang dilintasi GMT, hanya 11 provinsi yaitu Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Tentu saja 11 Provinsi itu termasuk beruntung dapat menyaksikan peristiwa alam yang langka ini. Hal ini tidak disia-siakan oleh pemerintah daerah yang wilayahnya dilalui oleh GMT untuk menarik wisatawan. Sudah jauh-jauh hari bahkan sejak akhir tahun 2014 lalu pemerintah daerah tersebut mempersiapkan konsep acara untuk menarik wisatawan. 

Termasuk Kota yang beruntung itu adalah Palangka Raya yang merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Tanah kelahiranku yang sangat jauh dari hingar bingar pemberitaan Nasional. Kami yang merupakan masyarakat Palangka Raya sangat beruntung memiliki kesempatan untuk melihat fenomena alam yang sangat langka. Di Kalimantan Tengah sendiri selain di Palangka Raya, ternyata Kota Sampit juga termasuk wilayah yang dilewati oleh GMT.

GMT (Gerhana Matahari Total) terakhir pernah melintasi Indonesia pada tahun 1983, saat dimana saya belum dilahirkan. Hehe. GMT tahun 1983 melintasi pulau jawa, Sulawesi dan Papua. Katanya kala itu pemerintah orde baru memberikan larangan melihat gerhana secara ngsung. Edaran dan pengumuman larangan pun secara gencar disebarkan. Akhirnya GMT kala itu menjadi mitos yang sangat menakutkan dan tak boleh dilihat sama sekali. Tak heran katanya kala itu banyak masyarakat yang mengurung diri dirumah saat GMT muncul.

Oke sekarang balik lagi ke Palangka Raya nih. Melalui momen ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menargetkan sekitar 700 wisatawan yang akan datang. Tapi ternyata jumlah wisatawan yang datang melebihi target sekitar 1000 wisatawan baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Tentunya ini menjadi berkah tersendiri ya kan.

 Banyak kegiatan bertemakan budaya yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya maupun pemerintah Provinsi Kalteng untuk menyambut GMT. Diantaranya adalah dengan menggelar pameran ekonomi kreatif yang berupa hasil kerajinan tangan para pelaku industri kreatif. Pada malam sebelum GMT juga diselenggarakan festival budaya di lapangan Sanaman Mantikei dan Bundaran Besar Palangka Raya.

Karena GMT kali ini bertepatan dengan perayaan nyepi, di sekitar bundaran besar umat Hindu Selasa (8/3) sore mengarak ogoh-ogoh. Penampilan ini pun semakin menambah semarak kota Palangka Raya yang saat itu sudah banyak wisatawan berseliweran.

Namun sangat disayangkan, keinginan untuk menyaksikan  GMT di langit Palangka Raya nan cerah tak seperti yang diharapkan. Karena Kota Palangka Raya sendiri pada pukul 05.00 sudah mulai diguyur hujan. Meski hujan sudah mulai agak mendingan  sekitar pukul 06.00, namun awan kelabu tak jua mau berpindah dari tempatnya.

Tapi antusiasme masyarakat untuk menyaksikan GMT sungguh luar biasa. Pada pagi hari itu jalan-jalan sangat ramai sekali. Terlihat masyarakat banyak memadati spot-spot strategis untuk mengamati gerhana meskipun mendung masih menggantung. Apalagi di pusat acara seperti di lapangan Sanaman Mantikei dan Bundaran Besar Palangka Raya. Keramaian ini mirip dengan keramaian saat menuggu detik-detik pergantian tahun.

Saat proses gerhana matahari dimulai, penampakan matahari lebih sering tertutupi oleh awan. Tak sedikit masyarakat yang kecewa dengan pemandangan ini, panitia acara pun melalui speaker tak henti-hentinya mengajak masyarakat berdoa agar awan bisa sedikit bergeser. Awan pun hanya bergeser sebentar, dan kemudian kembali menutupi objek.

Hingga saat gerhana matahari total terjadi, langit masih terlihat muram. Meski demikian ketika GMT, keadaan di Kota Palangka Raya mendadak berangsur menjadi gelap gulita. Masyarakat yang memadati Lapangan Sanaman Mantikei pun bersorak menyaksikan pemandangan yang luar biasa menakjubkan ini. Meskipun matahari tak terlihat dibalik awan, tapi masyarakat Palangka Raya setidaknya juga merasakan kegelapan total yang dialami saat GMT.

Sungguh luar biasa, syukur alhamdulillah dapat diberi kesempatan untuk melihat fenomena gerhana matahari ini secara langsung meski mendung. Pemandangan yang seumur hidup secara langsung baru pertama kali disaksikan olehku dan sebagian besar masyarakat Palangka Raya. Ketika langit terlihat gelap dan berubah menjadi malam, ada perasaan merinding menyaksikannya. “Tadi barusan hari siang terang benderang, dan tiba-tiba kini menjadi malam”, pikirku.

Hanya saja ketika aku abadikan melalui kamera ponsel, malah terlihat seperti tidak ada apa-apanya. Hanya terlihat seperti mendung dan matahari biasa. haha..

GMT di Palangka Raya terjadi sekitar 2 menit lebih. Berikutnya Kota Palangka Raya pun berangsur kembali terang seiring dengan fase akhir gerhana. Setelah fase gerhana matahari berakhir kembali dihadirkan festival tari kesenian khas dayak yang dipusatkan di Lapangan Sanaman Mantikei dan Bundaran Besar Palangka Raya. Walikota Palangka Raya HM. Riban Satia pun berencana akan membangung prasasti atau monumen Gerhana Matahari Total. 

Pengunjung di Pagelaran Seni Budaya
Sebagai sebuah sejarah bahwa Kota ini Pernah dilalui oleh gerhana matahari total. Karena menurut pakar astronomi, gerhana matahari akan kembali melalui titik yang sama dengan hari ini (jalur GMT 9 Maret 2016) yaitu memerlukan waktu 350 tahun an lebih. Sekali lagi di Palangka Raya ya, bukan di Indonesia. Karena tujuh tahun lagi atau 2023 akan ada GMT lagi yang melintasi Indonesia tapi hanya melalui Papua, Ternate dan Tidore saja. Dalam kurun waktu puluhan tahun, mungkin Palangka Raya hanya akan dilintasi gerhana matahari sebagian.

Selain di Kota Palangka Raya dan Kota Sampit, ada beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah yang katanya juga dilalui oleh GMT. Beberapa diantaranya adalah kabupaten di wilayah Barito dan di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Yah dengan adanya Momen GMT ini semoga banyak wisatawan yang terkesan dengan Kota Palangka Raya. Harapannya momen ini menjadi awalan yang bagus untuk membuat kota ini ramai dikunjungi oleh Wisatawan baik wisatawan asing maupun dalam negeri.