Kamis, 22 Desember 2016

Bertanggung Jawab Terhadap Gelar




Zaman dulu orang yang bergelar sarjana jumlahnya sedikit. Hanya beberapa orang saja yang mampu kuliah dan menyelesaikan sekolah tinggi. Itulah sebabnya kenapa orang-orang zaman dulu jika sudah lulus sarjana dan meraih gelar pasti sangat membanggakan sekali. Tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga membanggakan orang-orang sekitar dan orang-orang yang mengenalnya. 

Entah apa alasan dibalik itu semua karena aku tidak hidup di masa itu. Tetapi yang jelas, meraih sarjana kala itu katanya rada-rada sulit. Sulit dari segi biaya dan juga dari segi prosesnya. Makanya jumlah sarjana dulu hanya sedikit. Tetapi meski kuantitasnya sedikit, kualitas sarjana dulu  jangan ditanya. Selepas wisuda, mereka menajadi orang yang siap kerja dan siap pakai. 

Sekarang setelah setengah abad lebih merdeka, tingkat partisipasi perguruan tinggi di Indonesia semakin baik dan meningkat. Itu artinya semakin banyak jumlah mahasiswa yang kuliah dan semakin meningkat pula jumlah sarjana kita yang dicetak oleh Perguruan tinggi. Tentu saja itu adalah pertanda baik bagi pendidikan kita.

Hanya saja akan selalu muncul pertanyaan. Apakah peningkatan kuantitas ini dibarengi juga dengan peningkatan kualitas. Tampaknya sekarang orang-orang sudah cenderung menganggap sarjana adalah hal yang biasa saja. Tidak lagi seheboh dan sebangga dulu jika ada orang yang telah berhasil wisuda. Memang tetap ada kebanggan dihati segenap keluarga jika ada yang wisuda, hanya saja euforianya tidak sedahsyat dulu. Terutama bagi mereka yang berada di perkotaan.

Hal ini menjadi wajar, ketika kita lihat setelah para mahasiswa resmi menjadi Sarjana. Banyak yang luntang lantung karena tidak adanya lapangan pekerjaan. Lihat saja di data statistik berapa banyak jumlah pengangguran terdidik negeri ini. Jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Akhirnya menjadi sarjana saat ini bukan lagi menjadi sebuah kebanggaan yang teramat spesial. Apalagi jika ijazah dan gelar tak pernah terpakai di dunia kerja.

Entah apa yang salah, hanya saja tentu proses belajar mahasiswa selama di perguruan tinggi juga menjadi salah satu faktor. Patut disyukuri jika tingkat kemampuan masyarakat untuk masuk perguruan tinggi sekarang ini semakin meningkat. Hanya saja apakah peningkatan itu sebanding dengan kualitas sarjana. 

Tingkat motivasi setiap orang tentu saja berbeda-beda. Ada yang menjalani kuliah dengan bersungguh-sungguh,  ada yang biasa saja,  dan ada pula yang ala kadarnya. Orang-orang dengan tingkat motivasi yang berbeda ini maka akan menghasilkan idealisme, mental dan kapasitas yang berbeda pula.

Makanya jangan heran jika ada saja mahasiswa yang lebih cenderung menghargai hasil ketimbang proses. Apapun dilakukan asal nilai bagus, meskipun harus mengeluarkan biaya berlebih. Proses belajar dan menikmati pencarian ilmu tidak begitu dipedulikan. Tak jadi soal tidak memahami bidang ilmu yang digeluti, yang penting lulus.

Sering dulu kutemui waktu kuliah ada yang ketika disuruh mengemukakan pendapat malah diam tak bersuara. Dipaksa seperti apapun tetap diam juga. Kalaupun terpaksa jawabnya pun seadanya. Ada pula mahasiswa akhir yang sampai tidak mengerti sama sekali tentang bidang ilmu yang tengah ia geluti bahkan sampai ia lulus. Menyandang predikat mahasiswa tentu beban mental dan sosialnya berbeda dengan siswa sekolah. Sebutannya juga “Maha”, tentu harus ada tanggung jawab disitu.

. Tak cuma itu, proses penggarapan skripsi misalnya. Sudah jangan ditanya lagi, ini adalah hal yang paling bikin greget selama kita kuliah. Skripsi dicorat-coret, revisi sana sini, cari bahan ini itu, nugguin dosen, pokoknya sudah jadi makanan wajib mahasiswa tingkat akhir. Proses yang banyak menguras tenaga dan pikiran ini sayangnya ingin dilewati dengan jalan pintas oleh beberapa mahasiswa yang tidak mau ambil pusing.

Akhirnya karena tidak mau repot dengan urusan skripsi, uang pun jadi senjata andalan. Entah dengan menyogok dosen, memakai jasa pembuatan skripsi dan apapun itu asalkan ia tidak perlu pusing membuat skripsi. Maunya terima beres, terima bersih, yang dia tau hanya urusan wisuda. Parahnya hal ini  juga didukung oleh orang tua beberapa mahasiswa macam ini. Bahkan terkadang orang tua juga yang menawarkan anaknya untuk menjadikan uang sebagai alat negosiasi.

Apa yang bisa dibanggakan jika menyelesaikan kuliah dengan cara seperti ini. Sama saja artinya tidak menghargai ilmu, dan sama sekali tidak bertanggung jawab terhadap gelar yang didapat. Ada pepatah bilang hasil tidak pernah mengkhianati proses. Jadi jika proses yang dilalui instan dan ala kadarnya tentu hasil yang didapat ya juga karbitan. 

Alhasil akan kita dapatkan seorang profesor, doktor, magister, dan sarjana yang gelarnya hanya sekedar tempelan. Ketika ditanya pendapat tentang hal yang ia pernah geluti, atau ditanya tentang berita yang lagi up to date. Jawabannya tidak tahu.

Seorang yang menyandang gelar akademik tentu tingkat analitis dan pemahamannya relatif sedikit lebih baik daripada mereka yang tidak masuk perguruan tinggi. Meskipun banyak juga orang yang cerdas dan pintar kendati ia hanya lulusan SMA. Tapi seorang yang bergelar setidaknya dituntut mampu mengamati realitas yang ada dan menganalisis sesuai dengan bidang ilmunya serta memecahkan masalah. Karena ia sudah banyak membaca dan menganalisa.
Sejatinya mahasiswa itu adalah orang yang rajin membaca. Jadi adalah hal aneh jika seorang mahasiswa tapi tidak rajin membaca, jangan salah jika akhirnya ketidaktahuan akan merajalela. Membaca adalah makananya mahasiswa. Tentu ketika sudah menjadi sarjana dan masuk ke dunia kerja, membaca akan menjadi sebuah kebiasaan.

Entah siapa yang salah sistemnya kah atau mahasiswanya kah. Tapi menurut pendapat pribadiku, mau sebagus apapun tempat kuliahnya kalau mahasiswanya tidak memiliki motivasi dan semangat belajar yang tinggi ya sama saja. intinya sih mahasiwa itu asal rajin baca saja. Maka dengan itu ia akan menjelma menjadi orang yang idealis dan punya pandangan dan perspektif sendiri. 

Jangan anggap enteng gelar yang kita sandang. Gelar akademik yang ada di depan dan belakang nama kita punya arti yang besar. Gelar akademik menandakan bahwa kita sudah “ahli” di bidang ilmu yang kita pelajari. Tidak kah kita merasa terbebani, ketika dianggap sarjana, master ataupun doktor tapi kita merasa tidak tahu apa-apa. 

Maka setidaknya bagi semua penyandang gelar akademik harus memahami beban itu. Jadi mau tidak mau harus bertanggung jawab terhadap gelar itu. Bagi mahasiswa yang kelak akan wisuda jangan pernah abaikan proses kuliah. Nikmati semua proses di perguruan tinggi. Karena tidak ada sukses yang diraih secara instan. Klise memang, tapi faktanya memang demikian.

Senin, 12 Desember 2016

Resensi Buku : Klik


Penulis            : Linda Sue Park/ David Almond/ Eoin Colfer/ Deborah Ellis/ Nick Hornby/
                          Roddy Doyle/ Tim-Wynne-Jones/ Ruth Ozeki/ Margo Lanagan/
                          Gregory Maguire
Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama -  Jakarta
Halaman        : 228 hlm, 20 cm
Tahun             : 2012


 Sepuluh Suara, Satu Cerita 

Awalnya aku mengira buku ini adalah kumpulan kisah misteri ala-ala detektif gitu. Karena dari sampul depan buku ada bingkai roll foto, dipadu dengan warna cover yang agak temaram seperti naskah kuno. Ditambah dengan sinopsis di sampul belakang buku cukup meyakinkan untuk sebuah buku misteri. Apalagi buku ini ketika aku beli berada di tumpukan buku diskon yang harganya sangat ringan. Ya sudahlah aku beli ini buku. Tapi ketika dibaca ternyata isinya sungguh berbeda dari apa yang kubayangkan sebelumnya.

Buku (novel mereka menyebutnya) Klik bercerita tentang George Keane atau Gee, yang merupakan seorang fotografer terkenal. Ketika ia meninggal ia mewariskan kamera untuk cucunya Jason, dan sekotak kerang untuk cucunya Margareth. Berdasarkan dari latar belakang cerita pembuka itulah, kisah kemudian berkembang hingga bab terakhir. Dimana kisah dalam buku ini banyak bertumpu pada perjalanan Gee keliling dunia sebagai fotografer sewaktu ia masih hidup.

Buku Klik ini ditulis oleh 10 orang penulis yang namanya telah banyak memenangkan beberapa ajang kontes menulis. Setiap menulis satu bab, yang artinya total ada 10 bab dalam buku ini. 

Meskipun ditulis secara keroyokan, tapi buku ini memiliki jalinan cerita yang terikat antara satu bab dan bab lainnya. Itulah sebabnya buku ini diberi judul Klik. Makna Klik dalam buku ini juga dapat dikatakan sebagai bunyi kamera sedang mengambil gambar. Itu berdasarkan latar belakang hidup Gee yang seorang fotografer.

Hanya saja meskipun tetap terikat dengan benang merah cerita. Tetapi ada beberapa penulis  yang mencoba menguak dan membuat jalinan cerita yang sedikit belok,, tapi tidak langsung tuntas di bab tersebut. Akhirnya kisah yang belum tuntas itu menjadi misteri seperti apa ujungnya. Seperti contohnya ketika Margareth dan ibunya pergi bersama ibunya untuk mencari asal-usul kakeknya. Selain itu pendalaman karakter tokohnya tidak terlalu digali. Itulah kenapa aku lebih cenderung menyebutnya sebagai kumpulan cerita pendek dibandingkan novel. 

Sekali lagi meskipun ditulis oleh banyak orang, dan tetap terjaga benang merahnya, tetapi timeline kisahnya agak membingungkan alias lompat-lompat. Kadang kita kembali ke masa lalu, kadang kita kembali ke margareth kecil, tau-tau di bab berikut kita akan menemukan Margareth yang sudah tua renta.

Tapi satu hal yang membuat aku cukup kagum adalah keterkaitan antara satu cerita dan cerita lainnya. Apa yang dijelaskan pada bab 1 akan dijelaskan pada beberapa bab lain. Bahkan ada beberapa bab yang ketika aku membaca akhirannya cukup puas karena ada beberapa kisah yang tidak terduga. Seperti misalnya asal usul kotak kerang yang wariskan kepada Margareth, dijelaskan secara mendalam pada bab lain.

Meskipun bukan bercerita tentang kisah misteri dan serial detektif, aku sangat mengapresiasi sekali buku yang ditulis oleh banyak orang ini. Ceritanya lumayan menarik. Rasanya baru kali ini aku baca buku yang seperti ini. Buku yang ditulis keroyokan, tapi dengan benang merah dan cerita yang tetap terjaga.

Sabtu, 10 Desember 2016

Wisata Danau Seran, Banjarbaru



Bagi beberapa masyarakat Kalimantan Tengah mungkin tempat wisata Danau Seran belumlah begitu populer. Jika ditanyakan apa saja tempat wisata di Provinsi Kalimantan Selatan, mungkin pasar terapung dan Pulau Kembang menjadi jawaban posisi teratas. Entah bagi warga Kalimantan Selatan sendiri, apakah tempat wisata ini populer atau biasa saja. 

Danau seran ini merupakan objek wisata yang terletak di Kota Banjarbaru. Danau ini letaknya tidak jauh dari pusat kota. Bahkan memang wisata ini bisa dikatakan merupakan wisata  kota. Tepatnya berada di jalan Guntung Manggis. Tidak jauh dari bandara Syamsudin Noor. Lokasinya berada di pertengahan kompleks  perumahan.


Keindahan Danau Seran

Memang tidak terlalu besar, tapi keunikan dari danau ini adalah airnya yang jernih, biru dan agak kehijau-hijauan. Agak mirip seperti air di kolam renang. Saking jernihnya, kita bahkan bisa melihat dasar dari danau ini yang berupa rerumputan. Tapi itu berlaku untuk dasar yang berada di bibir danau, kalau sudah ditengah, ya sudah gak kelihatan karena kedalamannya.

Jernihnya Air Danau Seran
Danau Seran ini bisa dikategorikan sebagai tempat wisata buatan. Karena dulunya tempat ini adalah bekas lokasi penambangan. Ada yang bilang tambang intan, ada pula yang bilang tambang penggalian pasir. Apapun itu yang pasti saat ini lokasi tersebut sudah menjelma menjadi tempat wisata yang segar dan layak diperhitungkan.

Fasilitas wisata di tempat ini diantaranya adalah sepeda bebek, kelotok wisatawan yang digunakan untuk berkeliling ataupun menyeberang ke pulau di tengah danau. Selain itu di tempat ini juga ada “dermaga khusus” tempat pengunjung yang ingin mandi. Disini sudah disediakan tempat penyewaan rompi  dan pelampung dari ban dalam. Hanya saja tempat berenangnya ini menjadi satu dengan kawasan tempat orang main sepeda bebek dan lintasan kelotok wisatawan wara-wiri. Sehingga agak sedikit risih juga sih bagi yang mandi-mandi.

Sepeda Bebek
Bagi yang tidak bisa berenang disarankan jangan bercebur langsung dari dermaga ini. Meskipun sudah ada pelampung. Karena kedalaman air cukup memungkinkan untuk membuat orang dewasa tenggelam. Bagi yang bisa berenang sih tidak masalah. Namun apabila anda tidak bisa berenang bisa mencari spot lain yang aman dan memang memiliki tepian yang dangkal. Letaknya memang agak jauh, tapi tidak se arena dengan bebek-bebekan dan kelotok wisatawan. Disini tidak ada penyewaan pelampung dan rompi.

Dermaga Renang

 Untuk tarif kelotok, jika cuma mau menyeberang ke pulau yang ada di tengah danau dipatok Rp. 5.000 per orang. Sedangkan jika ingin keliling pulau sekaligus menyeberang harus membayar Rp.10.000 per orang.
Kelotok Wisatawan
 Di pulau yang ada di tengah danau seran dapat menjadi tempat bersantai yang menyejukan. Karena tempat ini banyak ditumbuhi pepohonan yang rimbun. Sehingga membuatnya sejuk dan teduh. Di pulau ini sudah disiapkan tempat duduk, bangku dan beberapa hammock atau jaring tidur gantung. Cocok sebagai tempat untuk mencari inspirasi. Hehe.
Pulau Di Tengah Danau

Meskipun katanya tempat ini sudah lama dikelola, tapi dari fasilitas yang ada tampaknya masih butuh penanganan serius. Misalnya toilet, tempat parkir, dan beberapa infrastruktur lainnya perlu ditingkatkan lebih baik lagi. Karena kalau dilihat kedepannya tempat ini punya potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di tengah kota.
Sunset di Danau Seran


Kamis, 10 November 2016

Review Film : Doctor Strange (2016)




Sutradara          : Scott Derrickson                                 
Skenario            : Jon Spaihts, Scott Derrickson, Steve Ditko
Pemain               : Benedicth Cumberbatch, Rachel McAdams, Tilda Swinton
Genre                 : Action, Adventure, Fantasy
Durasi                : 1 Jam 55 menit


Tampaknya hampir sebagian besar orang termasuk aku belum mengenal siapa ini Doctor Strange.  Tiba-tiba saja namanya muncul dalam salah satu karakter produksi Marvel. Padahal sebelumnya aku tidak tau apa dan bagaimana kekuatan sosok Strange ini. Dilihat dari cover dan trailer aku mengira Doctor Strange ini kisah tentang seorang dokter aneh yang bisa mengeluarkan cahaya dari tangannya, haha. 

Doctor Strange merupakan salah satu tokoh komik marvel ciptaan Steve Ditko dan  Stan Lee. Karakter ini sudah lama mereka ciptakan, bahkan pernah dibuatkan serial televisinya juga di tahun 1980.  Dapat dikatakan ini adalah salah satu karakter yang beruntung dapat difilmkan oleh Marvel Cinematic Universe. 

Meskipun masih terkait dengan tokoh dan karakter Marvel lainnya di Avenger, tapi Doctor Strange memiliki ranah yang berbeda dibandingkan para superhero Marvel yang pernah di filmkan. Strange memiliki kekuatan yang kata orang Indonesia sih ilmu kanuragan alias tenaga dalam. Jadi wilayahnya Strange itu ya urusan menembus dimensi alam lain, sihir, dan hal-hal yang berbau metafisis. 

Sangat beda bukan dengan wilayahnya mereka Thor, Iron Man, Spiderman, Captain Amerika dan kawan-kawan. Ada salah satu dialog dalam film ini menyatakan bahwa Avengers bertugas untuk melindungi bumi dan manusia dari ancaman nyata yang sifatnya fisik. Nah sedangkan Doctor Strange dan kawan-kawan ini tugasnya sama yaitu melindungi bumi dan manusia dari ancaman dimensi lain.

Doctor Strange (Benedicth Cumberbatch) adalah seorang dokter bedah yang sangat tersohor . Kehidupan dan pembawaan dirinya hampir mirip dengan karakter Tony Stark alias Iron Man. Mereka sama kaya raya, flamboyan, perfeksioni, arogan, sok pintar dan agak sedikit konyol. Reputasinya sebagai dokter bedah tidak terbantahkan.

Suatu ketika sebuah kecelakaan mobil merenggut tangannya. Dia dinyatakan mengalami kerusakan saraf yang mengakibatkan jari-jari tangannya tidak bisa digerakan. Berobat sana sini sampai ia bangkrut kehabisan harta tapi tak jua kunjung sembuh. Padahal sebagai dokter bedah, tangan adalah modal yang paling utama. 

Dalam keputusasaan itu akhirnya Strange menemukan sebuah harapan. Ia mendapat informasi dari seseorang yang dulunya pernah di vonis kerusakan saraf seluruh tubuh. Bahwa jauh di timur sana, tepatnya di Khatmandu, Nepal ada perguruan yang mampu mengobati kerusakan saraf. Perguruan itu dinamakan Kamar-Taj. Maka dengan berbekal harta yang masih tersisa ia pun nekat pergi ke Khatmandu.

Setelah melakukan pencarian akhirnya ketemu juga tuh perguruan. Sampai disini aku masih mengerutkan kening dan bertanya-tanya. “Serius nih Marvel, tumben mainannya ilmu-ilmu kanuragan dan bela diri dari asia.” Biasa Marvel kan urusannya yang ilmiah dan hal-hal yang berbau teknologi. 

Disini Strange bertemu dengan guru atau the ancient one (Tilda Swinton). Bukannya mendapat pengobatan, Strange justru ditunjukan kemampuan supranatural dari the ancient one ini. Tentu saja sebagai orang yang berpikir ilmiah, mulanya ia tidak menerima hal tersebut. Lama kelamaan  akhirnya ia sadar juga dan mau menerima kehebatan supranatural the ancient one. Malahan si Doctor Strange ini minta diajarkan.

Rupanya kemampuan Strange dalam belajar dan menyerap ilmu sungguh luar biasa. Dalam waktu singkat dia sudah dapat menghapal mantra-mantra, jurus-jurus. Tidak cuma itu banyak buku-buku yang dilahapnya dengan singkat. Atas kemampuannya ini rekannya saja sampai geleng-geleng kepala. 

Niat awalnya cuma mau menyembuhkan tangan, eh malah jadi ahli sihir. Sudah begitu ikut dalam pusaran pertarungan di dimensi lain pula. Untuk melindungi dimensi astral dari kejahatan Kaecillius (Mads Mikkelsen) yang ingin membangkitkan Dormammu, Strange yang merupakan murid terhebat dari the ancient one mau tidak mau harus melawan dan mengalahkan Kaecillius. Padahal ia tidak mau, tapi karena dia sudah menjadi bagian dari perguruan itu. Ya apa boleh buat. Tempur..

Terlepas dari karakternya, jalan cerita ini lumayan bagus. Alur cerita digambarkan secara sistematis  mulai dari kehidupan “zero” nya sampai kehidupan “hero” nya. Tak begitu membosankan. Film bergulir tak terasa hingga akhir. Sama seperti alur cerita tokoh superhero yang pernah ada. Hanya saja yang membedakan yaitu villain dan tema cerita.

Di film ini kita akan banyak disuguhi adegan-adegan kota terbalik, terlipat, dan berputar. Sama seperti di film Inception. Selain itu juga banyak disuguhi dengan sinema objek berputar-putar seperti yang cukup “memanjakan” mata, haha. Tapi disitulah kreatifitas sutradara agar dapat menampilkan ciri khas pertarungan dari Doctor Strange ini.

Keseriusan film ini  disegarkan dengan selipan tingkah konyol Doctor Strange. Sehingga sukses membuat penonton di seisi bioskop tertawa. Karakter yang konyol dan lucu ini seperti layaknya Tony Stark sangat diperlukan dan memang harus ada. Sudah jadi ciri khas Marvel tampaknya menyelipkan humor di setiap film garapannya.

Namun sayang menurutku adegan pertarungannya kurang begitu epic layaknya Iron Man, Thor dan tokoh lainnya.  Tapi meski demikian, scoring dan suara musik yang mengiringi film ini lumayan epic. Setidaknya hal itu dapat menolong.

Meski bukan bagian dari Avengers, paling tidak kedepannya dokter yang bernama lengkap Stephen Strange ini ikut tampil di beberapa film garapan marvel. Dari situs Imdb ada dua film Marvel yang didalamnya ia ikut hadir diantaranya Thor : Ragnarok dan Avengers: Infinity War.

Tak ada aspek prinsip yang perlu dikritisi dalam film ini. Hanya saja aku kurang sreg dengan kekuatan dari Doctor Strange ini. Karena beliau ini dalam mengeluarkan kekuatan terlalu bergantung kepada alat-alat. Padahal seharusnya mengeluarkan ilmu langsung dari tangan tanpa mediasi dari alat-alat kuno. Namanya juga tenaga dalam mesti tanpa perantara. Tapi ku tau karakternya sudah dari sananya, jadi mau diapakan lagi kan. 

Ini adalah sebuah keberanian atau lebih tepatnya terobosan dari pihak Marvel untuk mengangkat karakter superhero lain dari yang lain. Bisa dibilang Doctor Strange ini bukanlah karakter superhero yang populer. Tapi ya biar siapapun karakternya, mau si buta dari gua hantu kah, wiro sableng kah,  kalau yang menggarap dari studio Marvel Cinematic Universe orang pasti akan berduyun-duyun juga datang ke bioskop. Intinya nama besar Marvel sudah jadi jaminan mutu. Dan nyatanya filmnya pun not bad lah. Akhir kata film ini cukup menghibur dan lumayan lah.


---My rate :  7.5/10---

Jumat, 04 November 2016

Review Film : The Doll (2016)





Sutradara         : Rocky Soraya                                               
Skenario          : Rocky Soraya, Riheam Junianti
Pemain             : Shandy Aulia, Denny Sumargo, Sara Wijayanto
Genre                : Horor
Durasi              : 1 Jam 46 menit
Tahun rilis       : 2016

Dilihat dari cover dan judulnya ini film cukup meyakinkan dengan gambar boneka dengan pencahayaan yang gelap. Covernya terlihat seperti film yang  berselera tinggi, ditambah dengan judulnya yang tampak seperti film garapan hollywood. Mungkin filmnya mencekam, dan mengerikan. Setidaknya covernya cukup menjadi pemancing persepsi awal orang untuk menonton film garapan Hits Maker ini.

Awalnya aku agak sedikit skeptis dengan film ini. Tapi untuk mencoba mencintia produk dalam negeri ditambah persepsi akan cover yang ala hollywood itu, kucoba menonton film ini. Apalagi film ini dibintangi oleh Shandy Aulia yang sebelumnya juga pernah bermain di film horor Rumah Kentang. Film rumah kenang cukup lumayan, tapi tidak dengan film ini.

Film The Doll sendiri bercerita tentang  pasangan muda Daniel dan Anya yang baru pindah ke Bandung. Daniel (Denny Sumargo) bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi pengawas proyek. Dengan mengesampingkan mitos dan hal-hal yang diluar logika, ia berani menebang pohon yang menurut orang sekitar keramat di sekitar proyek. 

Ketika ia pulang, tiba-tiba boneka yang tadinya tergantung di pohon yang ia tebang ada dalam mobilnya. Tadinya mau dibuang tuh boneka, tapi karena Anya (Shandy Aulia) istrinya adalah seorang pecinta  dan sekaligus pembuat boneka. Boneka dengan wajah angker itu pun disimpan istrinya. Rupanya disinilah awal petaka dan teror terjadi. Sejak kehadiran boneka yang belakangan diketahui bernama gawiah itu hadir dirumah mereka, teror pun mulai berdatangan menghampiri keluarga kecil ini.

   Dalam film beberapa kali ditampilkan penampakan jalan Siliwangi di Bandung. Di dunia nyata jalan ini memang dikatakan menyimpan cerita dan mitos tentang boneka yang berkembang di masyarakat sekitar. Sehingga dasar film ini pun diambil dari mitos di jalan Siliwangi tersebut.

Patut di apresiasi dari film yang digarap oleh Rocky Soraya ini adalah kembalinya film Indonesia yang “murni” horor. Tidak ada embel-embel paha, dada, dan umbar pergaulan bebas yang kemudian mengaburkan esensi film itu sendiri. Tapi meski demikian film ini menurutku masih terdapat banyak kekurangan di beberapa titik.

Hal yang patut disayangkan adalah adegan pembukanya sangat mirip sekali dengan adegan pembuka film The Conjuring. Dari situ aku mikir, “wah, jangan-jangan ini film sampai akhir mirip lagi dengan film hits hollywood itu.” Tapi rupanya itu hanya adegan pembuka saja. Aman.

Rupanya rasa skeptisku akan film ini terbukti, dimulai dari dialog cinta-cintaan Anya dan Daniel yang entah kenapa membuatku geli. Selain itu dialog-dialog dalam film ini kok terasa kaku ya sehingga akting para tokohnya pun ikutan pada kaku. Tak sampai disitu ada beberapa adegan di film ini yang menurutku juga absurd. Sehingga membuatku mengerutkan kening dan kadang membuatku tertawa juga. Terutama dalam urusan mendobrak pintu. 

Jalan ceritanya kurang kuat. Latar belakang Anya yang seorang pembuat boneka tidak begitu ditampilkan. Di salah satu adegan ada bagian yang menampilkan mereka hidup susah dan pas-pasan, tapi dari segi make up, busana dan latar belakang rumah tidak menunjukkan hal itu. Ia sih adegannya lagi naik metro mini, tapi pakaiannya tampak kaya artis lagi blusukan.

Endingnya juga tidak begitu wah, maksud hati ingin membuat twist ending. Tapi aku malah berasa aneh aja gitu ya endingnya. Ada sebab akibat yang janggal yang terjadi di endingnya ini. Cara pengusirannya rohnya pun terlihat biasa saja, tidak sehebat yang dikatakan oleh Bu Laras (Sara Wijayanto) sang paranormal dimana sampai membuat suaminya meninggal. Endingnya banyak mengumbar darah dan luka yang cukup terang. Film yang tadinya tema horor biasa, malah jadi gore horor.  Secara keseluruhan film ini aku rasa masih kurang matang, dan terkesan apa adanya.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang janggal habis menonton film ini. Tapi berhubung tidak tega nulisnya, hehe. Meskipun banyak kekurangan di sana sini. Tapi film ini setidaknya memiliki beberapa nilai plus. Pertama adalah scoring dan sound effect yang cukup lumayan. Cukup meyakinkan dan dapat membangun suasana horor yang mantap di sepanjang film ini. Setting dan pencahayaan pun dibuat remang-remang dan sekali lagi kukatakan cukup meyakinkan. Dan tentu saja tidak ada lagi unsur erotisme dalam film ini. Setidaknya sudah ada sedikit perubahan untuk film horor Indonesia.

---My rate :  5/10---

Rabu, 02 November 2016

Review Film : Seven (1995)




Sutradara          : David Fincher                                    
Skenario            : Andrew Kevin Walker

Pemain               : Morgan Freeman, Brad Pitt, Gwyneth Paltrow

Genre                 : Crime, Mistery

Durasi                : 2 Jam 7 Menit

Tahun rilis         : 1995

Seven adalah film jadul tahun 90an yang baru ku tonton di jaman dimana teknologi sudah canggih seperti sekarang ini. Tapi meskipun tergolong film lama, film ini dari segi jalan cerita tidak kalah dengan film masa kini. Justru bisa dibilang film ini masih top hingga kini.

David Fincher adalah aktor dibalik layar yang sudah mengarahkan film ini. Jujur film David Fincher yang sudah pernah aku tonton sebelumnya hanyalah Fight Club. Film yang berhasil mengecohku sedari awal, dan akhirnya menimbulkan kesan  yang mendalam setelah menonton film Fight Club. 

Berharap mendapat kesan yang mendalam di ingatan. Hal itu pula yang tumbuh di benakku ketika ingin menonton karya David Fincher lainnya seperti film Seven ini. Benar saja, film ini bisa dibilang sedikit beda dengan film-film yang pernah ada. Apalagi latar belakang cerita berhubungan dengan detektif. Tema cerita yang sangat memancing minatku.

Film Seven ini mengisahkan tentang kisah dua orang detektif Somerset (Morgan Freeman), dan Detektif Mills (Brad Pitt) yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan berantai. Sang pembunuh ini menggunakan dalil 7 dosa mematikan yang diambil dalam kitab untuk setiap aksi pembunuhannya. 

Somerset adalah seorang detektif Senior yang akan memasuki masa pensiun. Ia terpakasa bekerja sama dengan detektif muda yang baru pindah di kepolisian setempat. Sebelum pensiun, Somerset diberikan kasus terakhir untuk diselidiki yaitu kasus pembunuhan seorang bertubuh gemuk yang tewas saat makan. Pembunuhan tersebut rupanya bukan pembunuhan biasa. Setelah dilakukan beberapa penyelidikan terungkap fakta-fakta dan petunjuk bahwa pembunuhan itu adalah pembunuhan berantai. Berdasarkan insting dan pengetahuan dari Somerset, ia menyimpulkan bahwa sang pembunuh sangat terinspirasi dari 7 dosa mematikan dan akan terjadi setidaknya 6 pembunuhan lagi.

Awalnya pernyataan Someset itu dianggap remeh, dan penyelidikan itu diserahkan kepada Mills. Tapi ketika pembunuhan berikutnya sesuai dengan pola yang dikatakan Somerset, pihak kepolisian pun meminta detektif veteran ini untuk membantu untuk terakhir kalinya.

Digambarkan dalam film ini Mills adalah detektif yang masih hijau dengan segala kesombongan dan sikap temperamental yang melekat pada dirinya. Berbanding terbalik dengan Somerset yang mempunyai pembawaan diri yang tenang dan tidak gegabah. Duet keduanya dalam memecahkan kasus dari awal film sampai film berakhir cukup menarik. Pertentangan ideologi dalam memecahkan kasus keduanya sangat kentara. Kita seperti melihat aksi seorang mentor dan murid. Memang demikian adanya, dari segi pemikiran Somerset lebih berperan dibandingkan Mills, ia pula yang banyak menuntun dan memberikan pentunjuk kepada detektif muda itu.

Kisah pembunuhan berpola dan berantai ini temanya mirip kisah di novel karya Agatha Christie yang berjudul Pembunuhan ABC. Pun hampir sama juga dengan film Angel & Demon yang dibintangi oleh Tom Hanks. Tapi masing-masing judul yang tersebut diatas mempunyai dasar dan pola yang berbeda satu sama lainnya. Begitu pun pemecahannya kasusnya.

Pemecahan kasusnya membuat aku sedikit agak kecewa lantaran sang pelaku yang menyerahkan diri. Endingnya memang membuat shock, tapi aku tidak terlalu terkejut. Hal itu sudah aku ketahui ketika sang pelaku John Doe yang mengatakan bahwa Mills nantinya akan terkejut menyaksikan fakta yang hadir kemudian. Dari pernyataan ini, aku sudah bisa menebak, “ooh pasti ini istrinya”. 

Meski di awal film agak sedikit ngantuk dibuatnya karena alur cerita yang berjalan lambat. Menjelang pertengahan film, inti cerita sudah mulai kelihatan dan membuat penasaran. Menurutku walaupun filmnya tidak se wah Fight Club, tapi film ini cukup okelah untuk menghibur dan membuat penasaran. hehe

 ---My Rating 7/10---

Minggu, 30 Oktober 2016

Review Film : Open Grave (2013)






Sutradara           : Gonzallo Lopez Gallego                                          
Skenario             : Eddie Borey, Chris Borey
Pemain               : Sharlto Copley, Thomas Kretschmann, Josie Ho
Genre                 : Thriller, Misteri
Durasi                : 1 Jam 42 Menit
Tahun rilis         : 2013

Film yang berbau thriller, misteri dan horor merupakan salah satu jenis film favoritku. Salah satunya adalah film ini Open Grave. Film besutan dari sutradara Gonzallo Lopez Gallego ini jika diperhatikan endingnya hampir mirip dengan film Modus Anomali arahan Joko Anwar.  Tapi nanti sajalah berbicara tentang ending.

Adegan pertama film dibuka dengan seorang pria yang diawal film belum diketahui namanya (Sharlto Copley) tersadar dari tidur panjang. Dia terbangun diantara tumpukan mayat di sebuah kuburan besar. Dalam kebingungan itu ada seorang gadis yang menolongnya untuk naik ke atas permukaan keluar dari tumpukan mayat itu.

Atas rasa penasaran, ia pun mengikuti gadis itu. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah ditengah hutan. Didalamnya ternyata sudah ada 5 orang yang juga tengah dalam kebingungan yang sama seperti dirinya. Tak tahu siapa identitas dirinya, tak tau mengapa dan apa yang mereka lakukan ditempat itu. Singkatnya mereka mengalami amnesia alias hilang ingatan.

Rasa penasaran akan latar belakang para tokoh di awal cerita mampu menjadi sebuah pemicu untuk membuat penonton bersabar menunggu hingga akhir film. Film macam ini, kalau di awalnya sudah ada adegan yang bikin kita bertanya-tanya, maka biasanya akan ada twist di akhir cerita. Dan tentu saja jawaban itu kalau kita mau bersabar menunggu film berakhir.

Film ini mampu membuat penonton menunggu twist dari sejak cerita dimulai. Seperti misalnya film Modus Anomali, Hangover, yang dimulai dengan menciptakan rasa penasaran penonton.

Jalan ceritanya lumayan menarik dan simpel tentang usaha dokter yang menolong penduduk yang terkena wabah. Tapi entah kenapa film yang berdurasi sekitar 1 jam 42 menit ini bagiku terasa lama.  Ada beberapa cerita yang menurutku terasa kurang penting sehingga membuat durasi film terasa lama.  Sehingga membuatku sedikit ketiduran di beberapa adegan. Padahal ini film thriller lho.

Di film ini, setelah kita disuguhi awal yang menarik perhatian, perlahan tensi film turun hingga pertengahan cerita. Barulah pada pertengahan cerita, ketika Lukas (Thomas Kretschmann) menemukan rekaman video dimana Jonah (Sharlto Copley) terlihat melakukan percobaan medis terhadap mereka. Konfilik pun terjadi disini. Film pun menjadi lebih tegang kembali setelah dari bagian ini.

Endingnya memang twits, tapi twistnya agak sedikit kurang wah. Sebab di pertengahan film dan beberapa adegan sampai akhir, sang sutradara sudah menyuguhkan potongan-potongan clue melalui ingatan sang tokoh yang membentuk konklusi. Sehingga ada sedikit gambaran lah mengenai endingnya.

Namun yang agak sedikit disayangkan ya kurang digalinya latar belakang beberapa  tokoh seperti si gadis bisu, si anak kecil dan neneknya, para tentara, dan beberapa orang yang amnesia ini. Begitupun juga dengan adegan si gadis bisu memberi makan zombie untuk apa itu, lalu kemudian bagaimana latar belakang pertemuan Jonah dengan orang-orang dirumah ini.

Tapi meski demikian film ini bisa dibilang lumayan lah. Cukup oke dengan menawarkan rasa penasaran di awal film dengan ending yang semi twist. Hehe.

---My Rate :   6.5/10---

Selasa, 18 Oktober 2016

Resensi Buku : My Life as Film Director





Judul Buku     : My Life as Film Director                                 
Penulis            : Haqi Ahcmad
Penerbit          : PlotPoint Publishing (PT. Bentang Pustaka)
Tahun             : 2012
 

Dengan berkembangnya teknologi, maka segala hal yang berhubungan dengan dunia digital pun kian hari kian mudah saja. Akses yang begitu mudah di media sosial, memberikan berbagai macam kemudahan tentang apa yang ingin kita geluti. Termasuk menjadi seorang sutradara. 

Menjadi seorang sutradara tampaknya menjadi salah satu peranan yang cukup banyak digeluti oleh anak muda. Setidaknya Hal ini bisa terlihat dari tingginya antusiasme anak muda dalam mengikuti festival film yang banyak diselenggarakan. Selain itu banyaknya film pendek yang di unggah ke media sosial dapat menjadi sebuah tanda bahwa menjadi sutradara sekarang ini cukup bergengsi.

Benarkah menjadi sutradara sekarang semudah itu. Kalau secara independent sih iya mudah sekali. Asal punya kamera aja, sudah bisa buat film, kemudian di edit lalu unggah ke media sosial untuk di promosikan. Namun jika ingin menjadi sutradara di industri perfilman nasional memang tidak semudah itu. Ada suatu proses panjang yang mesti dijalani. 

Melalui buku ini yang ditulis oleh Haqi Achmad yang berjudul My Life as Film Director, proses-proses itu terlihat cukup masuk akal dan dapat ditempuh dengan mudah oleh siapa saja. Dalam buku yang membahas tentang kehidupan sutradara ini kita banyak belajar tentang jalan hidup beberapa sutradara ternama Indonesia dalam merintis karir dari awal. Beberapa sutradara yang dibahas dalam buku ini diantaranya adalah : Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Ifa Isfansyah, dan Sammaria. Keempat sutradara itu namanya sudah malang melintang di jagat perfilman nasional. 

Haqi Achmad dalam buku ini tidak bercerita tentang teknis bagaimana penyutradaraan sebuah film. Lagipula kalau itu dilakukan oleh Haqi Achmad, justru buku ini terasa kurang seru. Sebaliknya buku ini lebih menyajikan spirit perjalanan hidup keempat sutradara ini dalam menapaki karir di industri perfilman mulai dari nol. My Life as Director Film banyak memberikan suntikan motivasi kepada para pembaca yang memiliki minat untuk menjadi seorang sutradara. Bahwa segala hal yang kita tekuni dengan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin akan berbuah kesuksesan.

Menjadi sutradara tidak mesti harus sekolah film, tidak mesti harus seorang yang menimba ilmu di institut seni. Joko Anwar dan Sammaria membuktikannya. Joko Anwar yang merupakan alumnus ITB, sempat menjadi seorang wartawan dan kritikus film sebelum menjadi seorang sutradara. Lain lagi dengan Sammaria yang merupakan seorang sarjana teknik yang sempat bekerja sebagai arsitek di perusahaan singapura. Tapi meskipun bukan berlatar belakang seni dan film, setidaknya mereka memiliki kegemaran dan passion di bidang film.

Lantas bagaimana keempat sutradara ini memulai debutnya di perfilman nasional? Joko Anwar membuka jalan karirnya sebagai sutradara dimulai dari wartawan dan kritikus film, suatu ketika ia dapat kesempatan mewawancarai penulis skenario terkenal. Dari sinilah Joko Anwar coba menawarkan skrip Janji Joni yang kemudian menjadi jalan baginya menjadi sutradara.

Ifa Isfansyah sebelum menjadi sutradara film layar lebar, namanya sudah tidak asing di jagat film-film pendek. Sebelumnya ia adalah orang yang sering bikin film-film pendek. Hingga suatu ketika film pendeknya yang berjudul Mayar berhasil menarik perhatian publik dan berhasil memenangkan festival film. Kemudian tawaran untuk menyutradarai film panjang pun berdatangan menghampiri Ifa.

Sedangkan Hanung bisa dikatatakan mulus dan mudah saja karirnya. Setelah ia lulus kuliah di IKJ, ia sudah merintis karir membuat film dan menyutradarai beberapa sinetron dan FTV.  Lain dengan Sammaria yang lamarannya untuk bekerja beberapa kali di tolak oleh Production House. Hingga akhirnya ia nekat membuat film sendiri. Siapa sangka film pertamanya pun sukses dan mendapat penghargaan sebagai skenario terbaik. Dari sinilah jalannya mulai terbuka sebagai Sutradara di perfilman tanah air.

Jika dilihat dari perjalanan keempat sutradara itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa segala hal yang ingin kita capai, dapat terwujud jika kita bersungguh-sungguh. Jika kita fokus dan benar-benar menyukai hal-hal yang berbau film. Bukan tidak mungkin kita akan bisa seperti keempat sutradara itu. Lihat  saja jalan hidup sutradara-sutradara itu seperti dipenuhi keberuntungan karena kekuatan fokus dalam diri mereka. Sebagian besar jalannya dimudahkan. Ada yang baru bikin film pertama langsung goal, ada yang sudah merintis karir dengan menyutradarai sinetron dan ada pula yang menjadi wartawan terlebih dahulu.

Ditulis dengan bahasa yang menarik, mudah dicerna dan enak dibaca, buku ini sangat recommended dan wajib dibaca bagi siapapun yang ingin jadi sutradara. Meskipun bukan buku yang bercerita tentang teknis penyutradaan, tapi setidaknya buku ini bermuatan nilai yang “provokatif” dan ingin menyampaikan bahwa siapa saja bisa menjadi sutradara. Dengan halaman yang full color, tata letak yang  dan huruf yang bagus, membaca buku ini jadi lebih menyenangkan.

Akhir kata, saya kutipkan pernyataan dari Ifa Isfansyah :
 “Satu-satunya cara agar bisa menjadi sutradara adalah dengan membuat film. Enggak ada cara lain hanya membuat film. Jadi kalo mau jadi sutradara bikinlah film