Jumat, 31 Maret 2017

Review Film : Danur (2017)




Sutradara          : Awi Suryadi                                        
Skenario            : Risa Saraswati, Lele Laila, Ferry Lesmana
Pemain              : Prilly Latuconsina, Kinaryosih, Shareefa Daanish
Genre                : Horor
Durasi               : 1 Jam 18 menit
Tahun rilis        : 2017



Mungkin bagi yang suka acara-acara horor tanah air sudah tidak asing lagi dengan nama Risa Saraswati. Wanita ini merupakan salah satu pendamping Tukul Arwana dalam acara mistis, Tukul Jalan-Jalan di Trans 7. Risa ini dikenal sebagai Indigo yang mampu melihat mahluk-mahluk dari alam sebelah. Bahkan tidak hanya itu, ia juga memiliki sahabat-sahabat dari mahluk astral.

Selain dikenal sebagai indigowati, (hehe) ia juga dikenal sebagai penulis novel horor. Salah satunya buku yang dibuatkan film adalah film Danur ini. Danur diangkat dari buku Risa yang berjudul Gerbang Dialog Danur. Tentu saja bukunya berdasarkan pengalaman nyata Risa sejak ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata.

Film ini bermula dari Risa kecil yang kesepian berdoa di ulang tahunnya ke 8  agar ia ia punya teman dan tidak kesepian lagi. Sejak ulang tahun itu tiba-tiba ia jadi bisa melihat mahluk gaib. Peter, William dan Jansen adalah mahluk gaib pertama yang bisa dilihat dan diajaknya berkomunikasi. Tidak cuma itu Risa kecil pun bermain dengan ketiga teman barunya itu.

Sampai suatu hari ia bisa melihat wujud asli ketiga temannya yang menyeramkan itu. Risa pun terkejut dan ketakutan. Praktis sejak saat itu hingga mereka pindah Risa tak pernah lagi melihat  ketiga temannya itu.

Beberapa tahun kemudian Risa yang sudah dewasa kembali lagi kerumahnya dulu untuk menjaga dan merawat neneknya yang sedang sakit. Disini ia kembali berurusan dengan hantu. Sebut saja disini Mbak Asih (Shareefa Daanish) yang semula dikira adalah pengasuh dan perawat neneknya, eh ternyata hantu jahat yang mendiami pohon besar dekat rumah mereka. Mbak Asih ini pun menculik adiknya Risa. Maka risa pun berjuang untuk menyelamatkan adiknya ini.

Film horor Indonesia seekarang kalau aku perhatikan pelan-pelan sudah mulai menunjukkan sedikit taringnya. Dulu sempat mainstream film indonesia dengan judul yang aneh-aneh dan dengan pemain yang hanya mengumbar kemontokan tubuh. Sedangkan ceritanya banyak yang tidak bermutu, nuansa horor yang tidak terbangun dan lain sebagainya.

Untuk kemunculan hantunya pun sudah mulai agak sedikit berubah. Dulu sering sekali nongol itu hantu. Sudah begitu sering bikin kaget penonton dengan sound efek yang membahana. Berhamburan adegan murahan si hantu usil yang suka beri kejutan. Tapi sekarang formula itu sudah mulai dikurangi oleh para sineas Indonesia. Salah satunya adalah film Danur ini. Meskipun masih ada tapi sudah mulai dikurangi.

 Sutradara Awi Suryadi berhasil menciptakan atmosfer kengerian dalam film Danur ini. Tidak cuma itu akting dari para pemainnya juga patut diapresiasi dalam membangung nuansa horor. Lihat lah akting Prilly dalam film ini yang sangat bagus ditambah lagi akting Shareefa  yang sangat mengerikan memerankan Mbak Asih. Shareefa memerankan sang hantu dengan sangat meyakinkan.

Meskipun film ini bernuansa horor, tapi kok ada saja adegan-adegan dalam film ini yang malah membuatku tertawa. Bahkan kadang ada beberapa adegan yang malah memancing tawa riuh seisi bioskop.  Namun sayang ada beberapa adegan yang malah kalau dilihat meniru adegan film blockbuster hollywood macam Insidious. Tentu saja ini agak sedikit merusak orisinalitas film.

Namun sayang film ini durasinya terlalu singkat sekitar 78 menit. Kalau saja sebelum ia bertemu dengan Mbak Asih, ia juga bertemu dengan hantu-hantu lain yang juga mengerikan, maka kira-kira perjalanan Risa itu akan lebih mengesankan sebagai orang Indigo yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk halus. Dan terakhir andai saja instrumen lagu boneka abdi dijadikan theme song dalam film ini, dijadikan musik pembuka, penutu atau apapun itu. Tapi yang pasti lagu ini lebih sering ditonjolkan, maka orang-orang akan terus teringat film ini setiap theme song itu diputar. Dengar saja instrumen film-film  seperti Dead Silence, Saw, The Exorcist, Insidious yang begitu kuat  sebagai theme song  filmnya. Apa mungkin karena instrumen lagu boneka abdi itu sudah hak paten negara lain kali ya.

Tapi biar bagaimanapun film ini cukup lumayan lah. Kualitas film Indonesia sedikit membaik kalau melihat film ini.





---My rate :  6,5/10---

Rabu, 22 Maret 2017

Rajinlah Menolong Sesama





Hidup ini penuh dengan analogi analogi sederhana bagi siapa saja yang mau merenunginya. Banyak hal dan permisalan dalam renungan itu yang dapat dijadikan sebuah premis. Salah satunya adalah perihal tolong menolong antar sesama umat manusia.

Tentunya manusia kan punya berbagai macam karakter. Nah begitu pula dalam urusan tolong menolong, tidak semua orang yang hidup di dunia ini mempunyai karakter yang gemar menolong. Mungkin ada saja beberapa orang yang ketika dimintai tolong, enggan untuk menolong. Meskipun posisinya saat itu sedang dalam keadaan yang mampu untuk menolong.

Nah, setiap orang pasti pernah berdoa dan meminta tolong kepada Allah Tuhan yang Maha kuasa. Ketika kesulitan hidup melanda, ketika ketidakberdayaan menjerat jiwa raga, manusia cenderung mencari tuhannya dan berdoa memohon diringankan atas segala perkara. Lalu Allah pun menolong dan melapangkan urusan hamba-hamba sesuai kehendakNya. Akhirnya kita sebagai hamba ini merasa senang, bahagia, lapang dan hidup merasa damai ketika diberi pertolongan.

Tapi kemudian ketika ada orang yang meminta pertolongan kepada kita. Dengan pedenya enggan sama sekali untuk menolong. Kita memang bukan tuhan, tapi setidaknya tunjukanlah rasa syukur kita kepada Allah itu dengan menolong juga sesama umat manusia. Buatlah Allah senang, karena kita sudah bersyukur diberi pertolongan dengan membantu sesama manusia keluar dari kesulitan. Jadilah agen atau perantara Allah Swt. dalam menolong sesama. 

Wah alangkah sombongnya ya jika kita tidak pernah mau menolong sesama. Allah saja tanpa pilih kasih menolong hambaNya, tak peduli orang itu sering bermaksiat kepadaNya. Lha kita manusia fana ini kok sok-sok an tidak mau menolong sesama.

Mikirnya gini aja sih, bagaimana mungkin Allah akan senang menolong kita kalau kita saja enggan untuk menolong sesama. Mohon maaf nih, jangan heran jika banyak kita jumpai ada orang-orang yang merasa hidupnya selalu sulit kendati sering berdoa. Ya mungkin karena karena pelit menolong sesama, padahal menolong orang lain itu kan juga salah satu bentuk dari sedekah. 

Bukan bermaksud sombong, seringkali landasan niatku dalam membantu orang lain adalah karena Allah. Allah seringkali menolong dan mengeluarkan aku dari berbagai macam kesulitan setiap kali aku memohon. Jadinya ketika ada orang meminta pertolongan, aku jadi teringat bagaimana aku berada di posisi yang sulit. Oleh karena itu sebagai wujud syukurku atas pertolongan Allah itu, aku berupaya untuk menolong dan peduli terhadap sesama.

 Makanya itu ketika ada orang minta pertolongan, jika bisa kubantu ya pasti akan kubantu. Jika tidak punya daya apa boleh buat aku hanya bisa memanjatkan doa. Percayalah hidup akan tenang dan lapang jika kita sering menolong sesama. Dan pastinya setiap kita ada kesulitan, Allah pasti akan datang menolong kita malah hidup akan semakin mudah. Akan selalu datang rejeki dan kehidupan yang tidak terduga akibat menolong orang lain. Itu pasti, It’s real story.

Maka dari itu rajin-rajinlah terlibat dalam tolong menolong. Karena itu sama saja dengan menolong diri kita sendiri. Tentu saja dalam konteks ini adalah tolong menolong dalam kebaikan.

Minggu, 12 Maret 2017

Air Terjun Bajuin



Dilihat dari luas wilayah memang Provinsi Kalimantan Selatan kalah dibandingkan dengan provinsi lainnnya di Kalimantan. Tapi untuk keindahan alam dan objek wisata Provinsinya urang banua ini jangan pernah dianggap remeh. Kalsel banyak memiliki tempat wisata alam yang indah dan menarik yang tersebar di beberapa kabupaten.

Kondisi geografis wilayah yang tidak terlalu luas memberi keuntungan sendiri bagi pariwisata di Kalsel. Karena rata-rata tempat wisata yang ada di beberapa kabupaten jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan.

Salah satu tempat wisata yang menarik adalah di Kota Pelaihari ibukota Kabupaten Tanah Laut. Mungkin beberapa orang (atau cuma aku) kurang begitu ngeh jika disebutkan nama Kabupatennya saja. Namun jika disebut daerah Pelaihari, baru ngeh oooo disitu.

Mulanya aku mengira Pelaihari itu jauh sekali dari Banjarmasin. Ternyata Ibukota Kabupaten Tanah Laut ini hanya berjarak sekitar 65 Km saja dari Kota Banjarmasin dengan waktu tempuh hampir 2 jam. Maklum karena kecepatan sepeda motor kami pada waktu itu hanya berkisar 50 Km/Jam ditambah banyak mampir juga. Lagipula karena jalan lintas kabupatennya relatif kecil dan ramai jadi tidak memungkinkan memacu kendaraan dengan cepat, takut ada yang menyeberang atau belok mendadak. Tapi bagi yang sudah biasa dengan jalan itu mungkin kurang dari 1 jam bisa saja tembus.

Inilah seperti yang kusampaikan di atas tadi, Provinsi Kalimantan Selatan itu memiliki kota dan kabupaten yang jaraknya tidak terlalu jauh antara satu dan lainnya. Sudah begitu masing-masing kabupaten pasti memiliki keunikan dan keunggulan wisata alamnya. Seperti Pelaihari ini, jaraknya lumayan dekat lah kalau dari Banjarmasin.

Kabupaten Tanah Laut atau Pelaihari wilayahnya banyak di kelilingi oleh perbukitan. Menjelang masuk di wilayah ibukota, kita akan disuguhi oleh pemandangan yang indah sekali di sisi kiri berupa perbukitan. Kalau dilihat-lihat sih sebenarnya lebih mirip rangkaian pegunungan. Ketika masuk ke wilayah Kota Pelaihari pertama kita akan disambut oleh gerbang selamat datang dan tulisan yang sangat besar tertulis PELAIHARI.  Karena terlihat ikonik untuk tempat berfoto, jadilah kami mampir sebentar di gerbang tersebut.

Pelaihari

Setelah melewati gerbang itu ternyata pemandangan lebih menakjubkan lagi. Karena pemandangan bukit itu tidak lagi di satu sisi saja, tetapi di sisi kiri dan kanan jalan. Jangan ditanya lagi, tentu saja jalannya naik turun membelah perbukitan. Tak jauh dari gerbang, jauh di atas bukit ada rangkaian huruf yang bertuliskan TANAH LAUT. Mirip seperti hollywood punya. Sayang tak sempat ku ambil fotonya.

Tujuan kami hari itu sebenarnya ingin ke jalan-jalan berlibur ke Taman Labirin dan beberapa air terjun. Namun sial, sudah jauh-jauh perjalanan yang ditempuh Taman Labirin malah ditutup untuk umum karena ada acara Pramuka. Tidak mau rugi kami pun bertanya sana sini untuk menuju ke air terjun yang terdekat dari kota. Karena letaknya diantara perbukitan, Kabupaten Tanah Laut memiliki banyak sekali air terjun yang lokasinya tidak jauh dari Kota Pelaihari. Makanya aku agak terkejut juga melihat banyak tempat wisata yang kami lewati sebelum masuk ke Kota Pelaihari salah satu yang terkenal adalah Bukit Kayangan. Tapi cuma lewat aja sih.

Akhirnya ditentukanlah tujuan kami yaitu Air Terjun Bajuin di Desa Sungai Bakar. Letaknya sekitar 10 Km dari Kota Pelaihari atau lebih tepatnya dari tugu hari jadi Kabupaten Tanah Laut. Karena berdasarkan hasil searching di google dan bertanya dengan warga air terjun tersebut yang paling dekat. Maklum ini kali pertamanya aku dan keluarga pergi ke Pelaihari jadi mesti bertanya dulu.

Tugu Hari Jadi Kabupaten Tanah Laut. Dari sini langsung belok kiri.

Jalan menuju ke Desa Sungai Bakar sangat kecil, ya tahu sendiri kan jalan ala-ala pegunungan gitu. Tapi meskipun kecil tak ada kendaraan besar yang “memaksakan diri” untuk masuk kesini. Jalannya pun relatif tenang dan sepi dan juga relatif bagus. Banyak sawah-sawah hijau  dan kebun-kebun milik warga terhampar di sepanjang kiri dan kanan jalan. Selain itu yang lebih mantap lagi adalah pemandangan di kiri dan kanan jalan yang berupa bukit yang tinggi sekali yang di beberapa sudut terlihat tertutup awan tipis.

Bukit Dari Kejauhan

Jalannya relatif kecil dengan kebun pisang disamping jalan

Bukit semakin dekat


Saat kami tiba tak banyak orang yang berkunjung ke tempat wisata ini. Hal itu terlihat dari jumlah kendaraan yang sedikit di tempat parkir. Maklum saja karena saat kami tiba, cuaca pada saat itu sedang hujan yang sudah berlangsung lama di wilayah itu. Untuk biaya parkir ditarik Rp.10000/motor. Tak lupa penjaga parkir menyampaikan kepada kami bahwa jika habis hujan biasanya airnya terlihat kotor, karena air yang turun dari bukit membawa sedikit saripati tanah.

Jujur harus kukatakan bahwa tempat wisata ini fasilitasnya sangat minim. Keadaan kunjunganku pada Februari 2017, pertama toiletnya tidak berfungsi alias dalam kondisi rusak dan tidak ada airnya. Ada mushola yang berdiri tidak jauh dari toilet kondisinya pun sama, tampak tidak terurus. Tidak cuma itu, tempat untuk berteduh dan gazebo tidak terlalu ada.

Oke lupakan dulu soal itu, sekarang kami pun mencoba naik ke atas bukit. Karena katanya air terjun itu ada di atas bukit sana. Untungnya ada titian beton yang dibuat untuk memudahkan wisatawan naik, hanya saja tangga itu tidak sampai tertuju ke puncak.  Kalau kondisi tanah kering sih tidak masalah, yang jadi soal saat itu tanahnya habis diguyur hujan. Akibatnya tanah jadi licin, mana tanjakan pula. Kami yang saat itu bersama dengan wanita dan anak-anak harus ekstra hati-hati baik saat naik maupun turunnya.
Tangga menuju ke Air Terjun

Setelah melalui sedikit perjuangan dan perjalanan, akhirnya tibalah kami di lokasi. Hanya ada satu warung yang berdiri di lokasi itu. Kulihat sekeliling pemandangan begitu bagus berada di perbukitan yang indah. Tapi sekali lagi aku mencari fasilitas umum, tak jua kujumpai di atas sana.

Salah satu batu yang ikonik di areal Air Terjun Bajuin

Tampak bukit di kejauhan

Pemandangan Dari atas setelah hujan

Menurut info yang kucari di internet dari blogger yang pernah berkunjung, katanya air terjun ini memiliki 3 tingkatan. Entah di bagian yang mana lagi itu, karena pada saat itu hanya 2 air terjun yang berhasil kami temui. Inilah salah satu kesulitannya karena tidak ada petunjuk dan jalan di tempat wista ini. Karena fasilitasnya masih minim, jadi jalan untuk naik  dan turun ke air terjun itu hanya menggunakan tali tambang yang diikatkan di pohon. Dengan kondisi yang demikian ditambah lagi tanah yang licin dan basah, sangat tidak memungkinkan mengajak anak kecil untuk ke air terjun. Akhirnya anak-anak disuruh menunggu di warung saja. Untuk memasuki lokasi air terjun kita harus membayar lagi kepada orang yang berjualan di warung sebesar Rp. 2000/orang.

 Tali untuk naik ke bukit yang lebih tinggi

Benar saja yang dikatakan oleh orang-orang di parkiran tadi, saat kami sampai airnya terlihat keruh dan seperti berlumpur. Sayang sekali memang, sudah jauh datang dari Banjarmasin ternyata airnya tidak bisa untuk mandi. Disamping airnya yang keruh, badan kami pada saat itu juga kedinginan. Akhirnya kami hanya bisa berfoto-foto ria di lokasi tersebut.

Entah Tingkatan keberapa ini air terjunnya

Tampaknya salah satu tempat mandi.

Abaikan warna airnya

Terakhir kami pun turun ke air terjun berikutnya. Disini volume air yang terjun lebih besar. Hembusan angin dari air terjunnya itu pun terasa sangat kuat sekali. Memang sudah dibuatkan tangga tepat dihadapan air terjun itu. Tapi tetap saja turunnya harus berpegangan dengan tali tambang itu menuju ke tangga di depan air terjun. Justru disini turunannya lebih curam, jika tidak berpegangan bakal terpeleset. Hampir mirip seperti orang yang panjat tebing.

Sesampainya di air terjun wuih airnya deras sekali bro. Tapi airnya masih terlihat keruh kecoklatan. Tapi meskipun demikian, masih tidak dapat menutup keindahan dan eksotisme air terjun ini. Air terjunya indah dan deras, maksud hati ingin mandi tapi tidak memungkinkan. Karena aku merasa hawanya agak lain disitu, kayak ada hawa kematian. Hehe.

 Air terjun yang lebih besar dan deras

Pancuran air yang deras

Di lokasi ini tampaknya sudah dibuatkan wadah yang menyerupai kolam renang untuk menampung air yang jatuh itu. Entah sedalam apa kolam itu, karena ketika aku celupkan kakiku gak ketemu itu dasarnya. Mungkin karena saat itu musim hujan jadi air terlihat banyak dan meluap. Tapi mengerikan juga kalau mandi di kolam yang airnya tumpah dengan sangat deras, sudah begitu airnya masih mengalir kebawah lagi. Kebayang kan kalau mandi di kolam yang tanpa pagar dengan arus yang deras, bakalan nyemplung ke jurang. Akhirnya kami hanya bisa berfoto-foto ria di lokasi itu. Setelah itu kamipun kembali pulang langsung ke Banjarmasin. Kami tak sempat melihat-lihat dan keliling kota Pelaihari karena hari sudah sore.

Waduuuh turun kemana itu

 Ooh kesini

Air Terjun Bajuin memang memiliki keindahan dan pemandangan yang segar. Hamparan perbukitan yang indah dan air terjun yang segar. Tapi sayang sekali lokasi wisata ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Dari segi fasilitas umum saja masih kurang. Ditambah lagi keselamatan di tempat wisata ini tampaknya kurang terjamin terutama untuk yang membawa keluarga dan anak kecil. Sebagai tambahan sebaiknya jangan berkunjung ketika cuaca sedang hujan atau setelah hujan. Jika tidak ingin menjumpai airnya yang berwarna cokelat dan jalannya yang licin.




Kamis, 22 Desember 2016

Bertanggung Jawab Terhadap Gelar




Zaman dulu orang yang bergelar sarjana jumlahnya sedikit. Hanya beberapa orang saja yang mampu kuliah dan menyelesaikan sekolah tinggi. Itulah sebabnya kenapa orang-orang zaman dulu jika sudah lulus sarjana dan meraih gelar pasti sangat membanggakan sekali. Tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga membanggakan orang-orang sekitar dan orang-orang yang mengenalnya. 

Entah apa alasan dibalik itu semua karena aku tidak hidup di masa itu. Tetapi yang jelas, meraih sarjana kala itu katanya rada-rada sulit. Sulit dari segi biaya dan juga dari segi prosesnya. Makanya jumlah sarjana dulu hanya sedikit. Tetapi meski kuantitasnya sedikit, kualitas sarjana dulu  jangan ditanya. Selepas wisuda, mereka menajadi orang yang siap kerja dan siap pakai. 

Sekarang setelah setengah abad lebih merdeka, tingkat partisipasi perguruan tinggi di Indonesia semakin baik dan meningkat. Itu artinya semakin banyak jumlah mahasiswa yang kuliah dan semakin meningkat pula jumlah sarjana kita yang dicetak oleh Perguruan tinggi. Tentu saja itu adalah pertanda baik bagi pendidikan kita.

Hanya saja akan selalu muncul pertanyaan. Apakah peningkatan kuantitas ini dibarengi juga dengan peningkatan kualitas. Tampaknya sekarang orang-orang sudah cenderung menganggap sarjana adalah hal yang biasa saja. Tidak lagi seheboh dan sebangga dulu jika ada orang yang telah berhasil wisuda. Memang tetap ada kebanggan dihati segenap keluarga jika ada yang wisuda, hanya saja euforianya tidak sedahsyat dulu. Terutama bagi mereka yang berada di perkotaan.

Hal ini menjadi wajar, ketika kita lihat setelah para mahasiswa resmi menjadi Sarjana. Banyak yang luntang lantung karena tidak adanya lapangan pekerjaan. Lihat saja di data statistik berapa banyak jumlah pengangguran terdidik negeri ini. Jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Akhirnya menjadi sarjana saat ini bukan lagi menjadi sebuah kebanggaan yang teramat spesial. Apalagi jika ijazah dan gelar tak pernah terpakai di dunia kerja.

Entah apa yang salah, hanya saja tentu proses belajar mahasiswa selama di perguruan tinggi juga menjadi salah satu faktor. Patut disyukuri jika tingkat kemampuan masyarakat untuk masuk perguruan tinggi sekarang ini semakin meningkat. Hanya saja apakah peningkatan itu sebanding dengan kualitas sarjana. 

Tingkat motivasi setiap orang tentu saja berbeda-beda. Ada yang menjalani kuliah dengan bersungguh-sungguh,  ada yang biasa saja,  dan ada pula yang ala kadarnya. Orang-orang dengan tingkat motivasi yang berbeda ini maka akan menghasilkan idealisme, mental dan kapasitas yang berbeda pula.

Makanya jangan heran jika ada saja mahasiswa yang lebih cenderung menghargai hasil ketimbang proses. Apapun dilakukan asal nilai bagus, meskipun harus mengeluarkan biaya berlebih. Proses belajar dan menikmati pencarian ilmu tidak begitu dipedulikan. Tak jadi soal tidak memahami bidang ilmu yang digeluti, yang penting lulus.

Sering dulu kutemui waktu kuliah ada yang ketika disuruh mengemukakan pendapat malah diam tak bersuara. Dipaksa seperti apapun tetap diam juga. Kalaupun terpaksa jawabnya pun seadanya. Ada pula mahasiswa akhir yang sampai tidak mengerti sama sekali tentang bidang ilmu yang tengah ia geluti bahkan sampai ia lulus. Menyandang predikat mahasiswa tentu beban mental dan sosialnya berbeda dengan siswa sekolah. Sebutannya juga “Maha”, tentu harus ada tanggung jawab disitu.

. Tak cuma itu, proses penggarapan skripsi misalnya. Sudah jangan ditanya lagi, ini adalah hal yang paling bikin greget selama kita kuliah. Skripsi dicorat-coret, revisi sana sini, cari bahan ini itu, nugguin dosen, pokoknya sudah jadi makanan wajib mahasiswa tingkat akhir. Proses yang banyak menguras tenaga dan pikiran ini sayangnya ingin dilewati dengan jalan pintas oleh beberapa mahasiswa yang tidak mau ambil pusing.

Akhirnya karena tidak mau repot dengan urusan skripsi, uang pun jadi senjata andalan. Entah dengan menyogok dosen, memakai jasa pembuatan skripsi dan apapun itu asalkan ia tidak perlu pusing membuat skripsi. Maunya terima beres, terima bersih, yang dia tau hanya urusan wisuda. Parahnya hal ini  juga didukung oleh orang tua beberapa mahasiswa macam ini. Bahkan terkadang orang tua juga yang menawarkan anaknya untuk menjadikan uang sebagai alat negosiasi.

Apa yang bisa dibanggakan jika menyelesaikan kuliah dengan cara seperti ini. Sama saja artinya tidak menghargai ilmu, dan sama sekali tidak bertanggung jawab terhadap gelar yang didapat. Ada pepatah bilang hasil tidak pernah mengkhianati proses. Jadi jika proses yang dilalui instan dan ala kadarnya tentu hasil yang didapat ya juga karbitan. 

Alhasil akan kita dapatkan seorang profesor, doktor, magister, dan sarjana yang gelarnya hanya sekedar tempelan. Ketika ditanya pendapat tentang hal yang ia pernah geluti, atau ditanya tentang berita yang lagi up to date. Jawabannya tidak tahu.

Seorang yang menyandang gelar akademik tentu tingkat analitis dan pemahamannya relatif sedikit lebih baik daripada mereka yang tidak masuk perguruan tinggi. Meskipun banyak juga orang yang cerdas dan pintar kendati ia hanya lulusan SMA. Tapi seorang yang bergelar setidaknya dituntut mampu mengamati realitas yang ada dan menganalisis sesuai dengan bidang ilmunya serta memecahkan masalah. Karena ia sudah banyak membaca dan menganalisa.
Sejatinya mahasiswa itu adalah orang yang rajin membaca. Jadi adalah hal aneh jika seorang mahasiswa tapi tidak rajin membaca, jangan salah jika akhirnya ketidaktahuan akan merajalela. Membaca adalah makananya mahasiswa. Tentu ketika sudah menjadi sarjana dan masuk ke dunia kerja, membaca akan menjadi sebuah kebiasaan.

Entah siapa yang salah sistemnya kah atau mahasiswanya kah. Tapi menurut pendapat pribadiku, mau sebagus apapun tempat kuliahnya kalau mahasiswanya tidak memiliki motivasi dan semangat belajar yang tinggi ya sama saja. intinya sih mahasiwa itu asal rajin baca saja. Maka dengan itu ia akan menjelma menjadi orang yang idealis dan punya pandangan dan perspektif sendiri. 

Jangan anggap enteng gelar yang kita sandang. Gelar akademik yang ada di depan dan belakang nama kita punya arti yang besar. Gelar akademik menandakan bahwa kita sudah “ahli” di bidang ilmu yang kita pelajari. Tidak kah kita merasa terbebani, ketika dianggap sarjana, master ataupun doktor tapi kita merasa tidak tahu apa-apa. 

Maka setidaknya bagi semua penyandang gelar akademik harus memahami beban itu. Jadi mau tidak mau harus bertanggung jawab terhadap gelar itu. Bagi mahasiswa yang kelak akan wisuda jangan pernah abaikan proses kuliah. Nikmati semua proses di perguruan tinggi. Karena tidak ada sukses yang diraih secara instan. Klise memang, tapi faktanya memang demikian.

Senin, 12 Desember 2016

Resensi Buku : Klik


Penulis            : Linda Sue Park/ David Almond/ Eoin Colfer/ Deborah Ellis/ Nick Hornby/
                          Roddy Doyle/ Tim-Wynne-Jones/ Ruth Ozeki/ Margo Lanagan/
                          Gregory Maguire
Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama -  Jakarta
Halaman        : 228 hlm, 20 cm
Tahun             : 2012


 Sepuluh Suara, Satu Cerita 

Awalnya aku mengira buku ini adalah kumpulan kisah misteri ala-ala detektif gitu. Karena dari sampul depan buku ada bingkai roll foto, dipadu dengan warna cover yang agak temaram seperti naskah kuno. Ditambah dengan sinopsis di sampul belakang buku cukup meyakinkan untuk sebuah buku misteri. Apalagi buku ini ketika aku beli berada di tumpukan buku diskon yang harganya sangat ringan. Ya sudahlah aku beli ini buku. Tapi ketika dibaca ternyata isinya sungguh berbeda dari apa yang kubayangkan sebelumnya.

Buku (novel mereka menyebutnya) Klik bercerita tentang George Keane atau Gee, yang merupakan seorang fotografer terkenal. Ketika ia meninggal ia mewariskan kamera untuk cucunya Jason, dan sekotak kerang untuk cucunya Margareth. Berdasarkan dari latar belakang cerita pembuka itulah, kisah kemudian berkembang hingga bab terakhir. Dimana kisah dalam buku ini banyak bertumpu pada perjalanan Gee keliling dunia sebagai fotografer sewaktu ia masih hidup.

Buku Klik ini ditulis oleh 10 orang penulis yang namanya telah banyak memenangkan beberapa ajang kontes menulis. Setiap menulis satu bab, yang artinya total ada 10 bab dalam buku ini. 

Meskipun ditulis secara keroyokan, tapi buku ini memiliki jalinan cerita yang terikat antara satu bab dan bab lainnya. Itulah sebabnya buku ini diberi judul Klik. Makna Klik dalam buku ini juga dapat dikatakan sebagai bunyi kamera sedang mengambil gambar. Itu berdasarkan latar belakang hidup Gee yang seorang fotografer.

Hanya saja meskipun tetap terikat dengan benang merah cerita. Tetapi ada beberapa penulis  yang mencoba menguak dan membuat jalinan cerita yang sedikit belok,, tapi tidak langsung tuntas di bab tersebut. Akhirnya kisah yang belum tuntas itu menjadi misteri seperti apa ujungnya. Seperti contohnya ketika Margareth dan ibunya pergi bersama ibunya untuk mencari asal-usul kakeknya. Selain itu pendalaman karakter tokohnya tidak terlalu digali. Itulah kenapa aku lebih cenderung menyebutnya sebagai kumpulan cerita pendek dibandingkan novel. 

Sekali lagi meskipun ditulis oleh banyak orang, dan tetap terjaga benang merahnya, tetapi timeline kisahnya agak membingungkan alias lompat-lompat. Kadang kita kembali ke masa lalu, kadang kita kembali ke margareth kecil, tau-tau di bab berikut kita akan menemukan Margareth yang sudah tua renta.

Tapi satu hal yang membuat aku cukup kagum adalah keterkaitan antara satu cerita dan cerita lainnya. Apa yang dijelaskan pada bab 1 akan dijelaskan pada beberapa bab lain. Bahkan ada beberapa bab yang ketika aku membaca akhirannya cukup puas karena ada beberapa kisah yang tidak terduga. Seperti misalnya asal usul kotak kerang yang wariskan kepada Margareth, dijelaskan secara mendalam pada bab lain.

Meskipun bukan bercerita tentang kisah misteri dan serial detektif, aku sangat mengapresiasi sekali buku yang ditulis oleh banyak orang ini. Ceritanya lumayan menarik. Rasanya baru kali ini aku baca buku yang seperti ini. Buku yang ditulis keroyokan, tapi dengan benang merah dan cerita yang tetap terjaga.

Sabtu, 10 Desember 2016

Wisata Danau Seran, Banjarbaru



Bagi beberapa masyarakat Kalimantan Tengah mungkin tempat wisata Danau Seran belumlah begitu populer. Jika ditanyakan apa saja tempat wisata di Provinsi Kalimantan Selatan, mungkin pasar terapung dan Pulau Kembang menjadi jawaban posisi teratas. Entah bagi warga Kalimantan Selatan sendiri, apakah tempat wisata ini populer atau biasa saja. 

Danau seran ini merupakan objek wisata yang terletak di Kota Banjarbaru. Danau ini letaknya tidak jauh dari pusat kota. Bahkan memang wisata ini bisa dikatakan merupakan wisata  kota. Tepatnya berada di jalan Guntung Manggis. Tidak jauh dari bandara Syamsudin Noor. Lokasinya berada di pertengahan kompleks  perumahan.


Keindahan Danau Seran

Memang tidak terlalu besar, tapi keunikan dari danau ini adalah airnya yang jernih, biru dan agak kehijau-hijauan. Agak mirip seperti air di kolam renang. Saking jernihnya, kita bahkan bisa melihat dasar dari danau ini yang berupa rerumputan. Tapi itu berlaku untuk dasar yang berada di bibir danau, kalau sudah ditengah, ya sudah gak kelihatan karena kedalamannya.

Jernihnya Air Danau Seran
Danau Seran ini bisa dikategorikan sebagai tempat wisata buatan. Karena dulunya tempat ini adalah bekas lokasi penambangan. Ada yang bilang tambang intan, ada pula yang bilang tambang penggalian pasir. Apapun itu yang pasti saat ini lokasi tersebut sudah menjelma menjadi tempat wisata yang segar dan layak diperhitungkan.

Fasilitas wisata di tempat ini diantaranya adalah sepeda bebek, kelotok wisatawan yang digunakan untuk berkeliling ataupun menyeberang ke pulau di tengah danau. Selain itu di tempat ini juga ada “dermaga khusus” tempat pengunjung yang ingin mandi. Disini sudah disediakan tempat penyewaan rompi  dan pelampung dari ban dalam. Hanya saja tempat berenangnya ini menjadi satu dengan kawasan tempat orang main sepeda bebek dan lintasan kelotok wisatawan wara-wiri. Sehingga agak sedikit risih juga sih bagi yang mandi-mandi.

Sepeda Bebek
Bagi yang tidak bisa berenang disarankan jangan bercebur langsung dari dermaga ini. Meskipun sudah ada pelampung. Karena kedalaman air cukup memungkinkan untuk membuat orang dewasa tenggelam. Bagi yang bisa berenang sih tidak masalah. Namun apabila anda tidak bisa berenang bisa mencari spot lain yang aman dan memang memiliki tepian yang dangkal. Letaknya memang agak jauh, tapi tidak se arena dengan bebek-bebekan dan kelotok wisatawan. Disini tidak ada penyewaan pelampung dan rompi.

Dermaga Renang

 Untuk tarif kelotok, jika cuma mau menyeberang ke pulau yang ada di tengah danau dipatok Rp. 5.000 per orang. Sedangkan jika ingin keliling pulau sekaligus menyeberang harus membayar Rp.10.000 per orang.
Kelotok Wisatawan
 Di pulau yang ada di tengah danau seran dapat menjadi tempat bersantai yang menyejukan. Karena tempat ini banyak ditumbuhi pepohonan yang rimbun. Sehingga membuatnya sejuk dan teduh. Di pulau ini sudah disiapkan tempat duduk, bangku dan beberapa hammock atau jaring tidur gantung. Cocok sebagai tempat untuk mencari inspirasi. Hehe.
Pulau Di Tengah Danau

Meskipun katanya tempat ini sudah lama dikelola, tapi dari fasilitas yang ada tampaknya masih butuh penanganan serius. Misalnya toilet, tempat parkir, dan beberapa infrastruktur lainnya perlu ditingkatkan lebih baik lagi. Karena kalau dilihat kedepannya tempat ini punya potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di tengah kota.
Sunset di Danau Seran


Kamis, 10 November 2016

Review Film : Doctor Strange (2016)




Sutradara          : Scott Derrickson                                 
Skenario            : Jon Spaihts, Scott Derrickson, Steve Ditko
Pemain               : Benedicth Cumberbatch, Rachel McAdams, Tilda Swinton
Genre                 : Action, Adventure, Fantasy
Durasi                : 1 Jam 55 menit


Tampaknya hampir sebagian besar orang termasuk aku belum mengenal siapa ini Doctor Strange.  Tiba-tiba saja namanya muncul dalam salah satu karakter produksi Marvel. Padahal sebelumnya aku tidak tau apa dan bagaimana kekuatan sosok Strange ini. Dilihat dari cover dan trailer aku mengira Doctor Strange ini kisah tentang seorang dokter aneh yang bisa mengeluarkan cahaya dari tangannya, haha. 

Doctor Strange merupakan salah satu tokoh komik marvel ciptaan Steve Ditko dan  Stan Lee. Karakter ini sudah lama mereka ciptakan, bahkan pernah dibuatkan serial televisinya juga di tahun 1980.  Dapat dikatakan ini adalah salah satu karakter yang beruntung dapat difilmkan oleh Marvel Cinematic Universe. 

Meskipun masih terkait dengan tokoh dan karakter Marvel lainnya di Avenger, tapi Doctor Strange memiliki ranah yang berbeda dibandingkan para superhero Marvel yang pernah di filmkan. Strange memiliki kekuatan yang kata orang Indonesia sih ilmu kanuragan alias tenaga dalam. Jadi wilayahnya Strange itu ya urusan menembus dimensi alam lain, sihir, dan hal-hal yang berbau metafisis. 

Sangat beda bukan dengan wilayahnya mereka Thor, Iron Man, Spiderman, Captain Amerika dan kawan-kawan. Ada salah satu dialog dalam film ini menyatakan bahwa Avengers bertugas untuk melindungi bumi dan manusia dari ancaman nyata yang sifatnya fisik. Nah sedangkan Doctor Strange dan kawan-kawan ini tugasnya sama yaitu melindungi bumi dan manusia dari ancaman dimensi lain.

Doctor Strange (Benedicth Cumberbatch) adalah seorang dokter bedah yang sangat tersohor . Kehidupan dan pembawaan dirinya hampir mirip dengan karakter Tony Stark alias Iron Man. Mereka sama kaya raya, flamboyan, perfeksioni, arogan, sok pintar dan agak sedikit konyol. Reputasinya sebagai dokter bedah tidak terbantahkan.

Suatu ketika sebuah kecelakaan mobil merenggut tangannya. Dia dinyatakan mengalami kerusakan saraf yang mengakibatkan jari-jari tangannya tidak bisa digerakan. Berobat sana sini sampai ia bangkrut kehabisan harta tapi tak jua kunjung sembuh. Padahal sebagai dokter bedah, tangan adalah modal yang paling utama. 

Dalam keputusasaan itu akhirnya Strange menemukan sebuah harapan. Ia mendapat informasi dari seseorang yang dulunya pernah di vonis kerusakan saraf seluruh tubuh. Bahwa jauh di timur sana, tepatnya di Khatmandu, Nepal ada perguruan yang mampu mengobati kerusakan saraf. Perguruan itu dinamakan Kamar-Taj. Maka dengan berbekal harta yang masih tersisa ia pun nekat pergi ke Khatmandu.

Setelah melakukan pencarian akhirnya ketemu juga tuh perguruan. Sampai disini aku masih mengerutkan kening dan bertanya-tanya. “Serius nih Marvel, tumben mainannya ilmu-ilmu kanuragan dan bela diri dari asia.” Biasa Marvel kan urusannya yang ilmiah dan hal-hal yang berbau teknologi. 

Disini Strange bertemu dengan guru atau the ancient one (Tilda Swinton). Bukannya mendapat pengobatan, Strange justru ditunjukan kemampuan supranatural dari the ancient one ini. Tentu saja sebagai orang yang berpikir ilmiah, mulanya ia tidak menerima hal tersebut. Lama kelamaan  akhirnya ia sadar juga dan mau menerima kehebatan supranatural the ancient one. Malahan si Doctor Strange ini minta diajarkan.

Rupanya kemampuan Strange dalam belajar dan menyerap ilmu sungguh luar biasa. Dalam waktu singkat dia sudah dapat menghapal mantra-mantra, jurus-jurus. Tidak cuma itu banyak buku-buku yang dilahapnya dengan singkat. Atas kemampuannya ini rekannya saja sampai geleng-geleng kepala. 

Niat awalnya cuma mau menyembuhkan tangan, eh malah jadi ahli sihir. Sudah begitu ikut dalam pusaran pertarungan di dimensi lain pula. Untuk melindungi dimensi astral dari kejahatan Kaecillius (Mads Mikkelsen) yang ingin membangkitkan Dormammu, Strange yang merupakan murid terhebat dari the ancient one mau tidak mau harus melawan dan mengalahkan Kaecillius. Padahal ia tidak mau, tapi karena dia sudah menjadi bagian dari perguruan itu. Ya apa boleh buat. Tempur..

Terlepas dari karakternya, jalan cerita ini lumayan bagus. Alur cerita digambarkan secara sistematis  mulai dari kehidupan “zero” nya sampai kehidupan “hero” nya. Tak begitu membosankan. Film bergulir tak terasa hingga akhir. Sama seperti alur cerita tokoh superhero yang pernah ada. Hanya saja yang membedakan yaitu villain dan tema cerita.

Di film ini kita akan banyak disuguhi adegan-adegan kota terbalik, terlipat, dan berputar. Sama seperti di film Inception. Selain itu juga banyak disuguhi dengan sinema objek berputar-putar seperti yang cukup “memanjakan” mata, haha. Tapi disitulah kreatifitas sutradara agar dapat menampilkan ciri khas pertarungan dari Doctor Strange ini.

Keseriusan film ini  disegarkan dengan selipan tingkah konyol Doctor Strange. Sehingga sukses membuat penonton di seisi bioskop tertawa. Karakter yang konyol dan lucu ini seperti layaknya Tony Stark sangat diperlukan dan memang harus ada. Sudah jadi ciri khas Marvel tampaknya menyelipkan humor di setiap film garapannya.

Namun sayang menurutku adegan pertarungannya kurang begitu epic layaknya Iron Man, Thor dan tokoh lainnya.  Tapi meski demikian, scoring dan suara musik yang mengiringi film ini lumayan epic. Setidaknya hal itu dapat menolong.

Meski bukan bagian dari Avengers, paling tidak kedepannya dokter yang bernama lengkap Stephen Strange ini ikut tampil di beberapa film garapan marvel. Dari situs Imdb ada dua film Marvel yang didalamnya ia ikut hadir diantaranya Thor : Ragnarok dan Avengers: Infinity War.

Tak ada aspek prinsip yang perlu dikritisi dalam film ini. Hanya saja aku kurang sreg dengan kekuatan dari Doctor Strange ini. Karena beliau ini dalam mengeluarkan kekuatan terlalu bergantung kepada alat-alat. Padahal seharusnya mengeluarkan ilmu langsung dari tangan tanpa mediasi dari alat-alat kuno. Namanya juga tenaga dalam mesti tanpa perantara. Tapi ku tau karakternya sudah dari sananya, jadi mau diapakan lagi kan. 

Ini adalah sebuah keberanian atau lebih tepatnya terobosan dari pihak Marvel untuk mengangkat karakter superhero lain dari yang lain. Bisa dibilang Doctor Strange ini bukanlah karakter superhero yang populer. Tapi ya biar siapapun karakternya, mau si buta dari gua hantu kah, wiro sableng kah,  kalau yang menggarap dari studio Marvel Cinematic Universe orang pasti akan berduyun-duyun juga datang ke bioskop. Intinya nama besar Marvel sudah jadi jaminan mutu. Dan nyatanya filmnya pun not bad lah. Akhir kata film ini cukup menghibur dan lumayan lah.


---My rate :  7.5/10---